Mengenal Falsafah KETHEK OGLENG (Kera Gila)

Posted: Februari 18, 2011 in Artikel Kejawen

Disaat berkaca kok tiba-tiba seperti terselip sebutir kacang dan kulit pisang dalam mulut-mulut rahasia ke-Kumitiran-ku. Lho. Apa ini. Ada kacang goreng sisa kemarin yang kumakan kenapa ada di hatiku dan kulit pisang itu lho kenapa kepelihara dalam pikiranku apa sih kulit pisang?

KETHEK OGLENG=KERA GILA
Kata orang sih kalau mau makan pisang buang kulitnya dan makan isinya jangan kulitnya ikut ditelen. Ntar keseretan nolak bisa nafas dan mati di kalangan para kera. Kumitir juga mengetahui logika itu, tapi sayangnya Kumitir itu kera idiot yang tidak tahu timur barat, tidak tahu pula kulit dan isi jadi dua-dua nya ditelan saja.
Jadi alih-alih dapat mengenal mengecap enaknya rasa pisang, si kera gila ini tidak pernah merasakan enaknya zat yang namanya pisang, tapi hanya sepet-sepet kulitnya saja wah, kasihan yaa. yaa, Kumitir memang seekor kera gila, betapa tidak, tiap hari diberi Tuhan rahmat-rahmat pisang-pisang spiritual, tapi hanya sibuk dalam dunia perkulitan perpisangan, sholat yang semestinya mikraj tapi Kumitir hanya tekuk badan dan baca-baca bacaan alif bak yang pelo, makhrojnya tidak bener, alih-alih khusyu memikirkan Tuhan Kumitir hanya khusyu’ memikirkan butiran-butiran kacang yang akan dicerna organ yang namanya perut yang besarnya na’udzubillah ini, alih-alih menikmati manisnya pisang-pisang ilhai yang ada 17 biji sehari atau lebih itu malah Kumitir sibuk membersihkan kulit-kulitnya dan sembari mengulih diirnya sendiri dasar kera gendheng, kera tidak punya otak, kera idiot.
Yaa, Kumitir memang seekor kethek ogleng, tubuhnya selalu ogleng/miring-miring tidak seimbang, miring ke kanan ke para ahli nujum, miring ke kiri ke pada tukang ramal, miring ke depan ke para filosof, miring ke belakang ke mas Wong Alus sufi, tapi kethek ogleng sulit jalan, karena miring-miring terus kethek ogleng sulit maji karena bingung terus, berputar-putar terus dalam berbagai argumentasi negeri kera, berspekulasi terus dengan bintang-bintang astrologi bercinta terus dengan nafsu padahan mas Wong Alus sufi bercinta dengan Tuhan, seperti gasing yang berputar-putar pada tempatnya di awalnya nampak gagah dan kuat, lama-lama sekrup-sekrup umurnya mulai menua, dan gasing pun berdoyong-doyong perlahan-lahan sampai di tanah, nggeletak –tergeletak-.
Kera gila menghabiskan usia dalam alam kebingunan dan kebodohan, yaa habis idiot sih, Kumitir tidak mengeluh pada Tuhan, karena Tuhan tidak menciptakan kegilaannya, habis pikir punya pikir, seperti halnya bangsa manusia, Kumitir juga punya akal, kalau tidak salah dulu juga Kumitir diciptakan sebagai manusia, walaupun sekarang sudah jadi kera gila, rasa-rasanya Kumitir juga punya pikiran sebagaimana Julia Lopez, atau Kumitir juga punya ketakutan sebagaimana ketakutan mas Wong Alus sufi kepada Tuhan, hanya pikiran Kumitir sudah dibanting pecah, pecah dan hancur sekarang tinggal ditempel-tempel seperti kista-kista jamur atau seperti benggolan-benggolan benalu atau jerawat yang tidak sedap dipandang mata, juga rasa takut Kumitir tidak diarahkan pada Tuhan, tapi pada hantu-hantu dan setan-setan yang banyak terdapat di air, kata orang tua jaman doeloe setan itu banyak di air, juga kata pak kaji Mamat, tapi setan dari golongan manusia itu banyak, ada di sumber-sumber penghidupan manusia seperti di duit-duit dan lain-lain, kalau preman-preman kera dan gorilla pasti ada di dekat pohon pisang, hanya kera gila lebih suka kulit puisang, dan kepada Tuhan, kegilaan ini memang pantas dan masih teramat bagus disifatkan pada individu kerdil pencinta kacang-kacang emas seperti saya.
Bener ini lho, tapi awas sekarang kera gila pun termasuk binatang langka coba saja kalau nggak percaya, walt disney kan ngarang kartun kota bebek mungkin mereka mikir jaman sekarang orang lebih banyak berkarakter bebek, amit-amit, Kumitir yang kera gila ini nggak mau jadi bebek habis kan haru mbebek terus, terus walt disney juga ngarang lion king, cerita tentang kerajaan binatang yang dipersonifikasikan, mungkin meraka berfikir sekarang ini secara maknawai mirip dengan dunia binatang, entah dalam hal apanya, tapi kalau Kumitir sih cuek, yang penting ada kulit pisang dan kacang, beres. Kan yang penting itu saja yaa?
Tapi sekali lagi awas mumpung roda-roda usia belum ditamatkan riwayatnya, kata para wali, ada orang yang kepalanya binatang, na’udzubillah, aduh gimana yaa, kalau Kumitir sih seneng sekiranya Kumitir ini kera gila, masih mending-mending, bagaimana kalau jadi buaya darat yang menjijikan itu, senengnya mandi di air kotor, air limbah, manusia buaya suka uang haram, apakah dari barang haram atau dari korupsi atau dari apa saja, manusia buaya, demi Allah, selalu makan kotoran-kotoran manusia dan bangkai-bangkai kadal yang menjijikan, padahal dipandangan mereka mungkin itu adalah sandwich burger, pizza, sop sarang burung hoeekkkk, kera gila mau mutah-mutah, wahai manusia, awas dengan barang haram, awas dengan dunia yang busuk-busuk…. lebih enak kulit pisang dan kacang sederhana tapi bersih, dan indah selalu.
Busuk-busuknya dunia menjijikan kera gila, jijik, juga jijik dengan diri sendiri yang terkotori dengan busuk-busuknya dunia, menjadi hasud ini, sombong dan setan-setan cakil yang menakutkan, oh, kera gila takut berubah jadi setan ya…, jangan yaa Allah, sumpah jangan yaa Allah, kera masih lebih baik dari setan, sumpah, jangan yaa Allah, tutuplah karirku di dunia perkeraan atau perapapuan dengan tangis airmata kasihmu yang abadi….. “. Oooo kera yang malang”, maghrifohmu saja yang kuharapkan dengan berkah Nabimu yang mulia saww.
Alang Alang Kumitir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s