Arsip untuk ‘Artikel Kejawen’ Kategori

NULADHA SEMANGAT PROKLAMASI 1945

Posted: Februari 18, 2011 in Artikel Kejawen

Dengan semangat proklamasi kemerdekaan Kumitir mengajak para Sutrisno Budaya untuk lebih memperat tali persaudaraan dalam rangka membangun Nusantara yang tercinta, jangan pernah ada lagi pertengkaran dan saling mencurigai antar sesama Saudara sendiri hingga mengakibatkan Cerai berai dan tidak ada kerukunan diantara kita warga negara yang multi suku dan budaya. Jangan pernah luntur dan harus kita tanamkan pada diri kita sendiri keluarga serta anak turun kita yaitu rasa persatuan dan kesatuan bangsa, yang merupakan salah satu pesan yang  telah diamanatkan para pendahulu kita melalui : Sumpah Pemuda, Undang-undang Dasar 45, dan Dasar Negara kita Panca Sila.
Apakah semua pesan para leluhur kita sudah kita laksanakan  semuanya oleh para pewaris kemerdekaan di negeri ini?  Yaitu “Masyarakat yang Adil dan Makmur”? Jawabannya tidak perlu saya utarakan di sini…… para sutrisna budaya sudah punya jawabannya. (lebih…)

Disaat berkaca kok tiba-tiba seperti terselip sebutir kacang dan kulit pisang dalam mulut-mulut rahasia ke-Kumitiran-ku. Lho. Apa ini. Ada kacang goreng sisa kemarin yang kumakan kenapa ada di hatiku dan kulit pisang itu lho kenapa kepelihara dalam pikiranku apa sih kulit pisang?

KETHEK OGLENG=KERA GILA
Kata orang sih kalau mau makan pisang buang kulitnya dan makan isinya jangan kulitnya ikut ditelen. Ntar keseretan nolak bisa nafas dan mati di kalangan para kera. Kumitir juga mengetahui logika itu, tapi sayangnya Kumitir itu kera idiot yang tidak tahu timur barat, tidak tahu pula kulit dan isi jadi dua-dua nya ditelan saja. (lebih…)

RENUNGAN TAUHID

Posted: Februari 18, 2011 in Artikel Kejawen

Langit dan mentari
siang berganti malam
kulit dan jauhari
citra buhulan terang
Hud-Hud Rahmaniyyah

Merenung
1.  Syarah kalimat “langit dan mentari”
Adapun sumber segala kehidupan adalah langit. Langit artinya bukan bumi. Arti lebih luasnya adalah bukan dunia atau bukan termasuk alam materi. Langit artinya sesuatu yang lebih tinggi dari bumi. Lebih tinggi dalam artian konsepsional. Sebagaimana sebab mendahului akibat. Dapat dikatakan sebab memiliki derajat prioritas lebih tinggi dari akibat.
Adapun sari kehidupan adalah gerak dan perubahan. Dan gerak memerlukan energi. Karena energi-lah melakukan gerak. Perubahan tiada lain adalah efek-efek gerak, ia pun memerlukan energi. Dari mana datangnya energi untuk seluruh kehidupan di bumi? Dari matahari, sang surtya yang senantiasa perkasa menebarkan milyun-milyun-milyun……. fotonnya ke jagat raya. Dan sepercik, -sebagian amat kecil-, dari foton-foton itu sampai ke bumi, menghidupi berjuta tanaman, tanaman menghidupi berjuta hewan, hewan dan tanaman menghidupi brjuta hewan lain maupun manusia. Sumber enegri semua kehidupan di bumi adalah energi matahari.
Adapun mentari dalam sya’ir di atas memiliki tafsiran kias yang lebih luas. Mentari diartikan sebagai Cahaya Wujud Mutlaq, sumber iluminasi semua wujud lain. Mengapa? (lebih…)

MENCAPAI DERAJAT INSAN KAMIL

Posted: Februari 18, 2011 in Artikel Kejawen

Akibatnya hasilnya kosong melompong. Karena hanya mengandalkan pikirnya. Ini berarti belum mendapat tata cara hidup yang benar hakiki yang seperti ini adalah idman yang sia-sia. Bertapanya sampai kurus kering, karena sedemikian rupa caranya menggapai kematian. Akhirnya meninggalnya tanpa ketentuan yang benar. Karena terlalu serius.adapun cara yang benar adalah tapa itu hanya sebagai ragi atau pemantap pendapat. Sedangkan ilmu itu sebagai pendukung. Tapa tanpa ilmu tidak akan berhasil. Bila ilmu tanpa tapa, rasanya hambar tidak akan memberi hasil. Berhasil atau tidaknya tergantung pada penerapannya. Dicegah hambatannya yang besar, sabar dan tawakal. Bukankah banyak agamawan palsu. Ajarannya stengah-setengah. Kepada sahabatnya merasa pintar sendiri. Yang tersimpan dihati, segera dilontarkan segala uneg-unegnya. Disampaikan kepada gurunya. Penyampaiannya hanya berdasarkan pikiran belaka. (lebih…)

FASE-FASE KEHIDUPAN MASYARAKAT JAWA

Potret gambaran tentang “perjalanan hidup” manusia sejak dilahirkan sampai meninggal dunia,diilustrasikan secara apik oleh leluhur jawa dalam macapat:yakni dari tembang mijil sampai pucung.bahkan,para pujangga bukan sekedar memotret fase-fase penting perjalanan hidup manusia,tetapi juga memberikan solusi atau jalan keluar dari permasalahan yang sedang di hadapi;baik mengenai makna hidup,hikmah serta cara menyikapinya (solusinya) yang semuanya itu di kemas secara simbolik(metafor).

Dan,refleksi perjalanan manusia yang terekam dalam macapat tersebut yakni sebagai berikut:

1.MIJIL

Mijil berarti keluar atau lahir,bayi yang baru lahir dari gua garba(rahim ibu).bayi yang baru saja dilahirkan tentu dalam keadaan fitrah,suci,atau murni dan tanpa dosa,ibaratnya seperti kertas putih bersih sedangkan hitam putihnya tergantung orang tuanya atau penulisnya.

2.SINOM

Sinom artinya muda,suatu fase atau keadaan ketika masih nom-noman ,anom (remaja).inilah fase untuk meniti cita-cita.Pada usia ini,biasanya di sekolah SMA/SMK telah di tentukan penjurusan yang di maksudkan untuk menggali dan menelusuri minat dan bakat siswa didik.Jika seseorang siswa kuat otak kanannya maka ia akan di masukkan ke jurusan IPA.sedangkan bagi anak2 yang lebih dominant otak kirinya ia akan di masukkan ke IPS.karena,otak kanan lebih berorientasi pada hafalan,rumus2,atau eksak.sementara oatak kiri arahnya pada ilmu social,kesenian,atau bahasa dan sebagainya. (lebih…)

Seiring berkembangnya zaman yang begitu pesat,teknologi yang begitu canggih,dan seiring surutnya rasa nasionalisme bangsa ini maka saya merasa prihatin melihat beberapa dari generasi penerus bangsa ini yang sudah melupakan budaya-budaya adiluhung nusantara yang menarik untuk di kaji ini dan di terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya adalah salah satu dari beberapa generasi penerus bangsa yang sangat tertarik dengan kebudayaan nusantara ini khususnya kebudayaan jawa,ya maklumlah aku khan lahir dari keturunan orang jawa.sebenarnya saya ingin kebudayaan saya (khususnya budaya jawa) tetep lestari sepanjang masa,yang merupakan sebagai salah satu warisan leluhur kita .tetapi sayangnya banyak dari generasi muda yang mulai melupakannya. (lebih…)

Saya sebagai orang yang mempunyai darah keturunan jawa sering mendengar petuah kata-kata ini baik dari orang tuaku sendiri maupun dari kakek-ku.jika kita mau berhenti sejenak untuk memahami makna yang terkandung dalam falsafah hidup orang jawa ini kita akan menemukan ajaran adiluhung yang cukup luar biasa dan saya yakin sangat bermanfaat jika kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Jika kita analisis,Kita mungkin sudah tahu jika kadar keimanan kita kepada tuhan sering berubah-ubah biasanya sich tergantung situasi dan kondisi kita pada saat itu.Jika kita mendapatkan musibah maka kita akan selalu ingat akan Allah SWT,sebaliknya jika kesenangan yang kita dapatkan maka kita akan menjauh dari allah SWT.Apalagi jika kita hidup di dunia modern pada saat sekarang ini maka kita akan lebih sering mendapatkan sebuah godaan hidup yang lebih besar so,jika kita tidak punya keimanan dan ketaqwaan maka kemungkinan sulit kita bisa menghindari hal tersebut.

Nach berkaitan dengan masalah-masalah yang di hadapi dewasa ini ternyata nenek moyang kita ternyata sudah mempunyai unen-unen petuah yang cukup dalam maknanya yaitu “Sakbejo-bejone uwong,luwih bejo wong kang iling lan waspodho”. Yang artinya dalam bahasa Indonesia kurang lebih seberuntung-beruntungnya orang,lebih beruntung orang yang selalu ingat dan waspada” so,jika falsafah hidup ini kita tanamkan dalam pribadi kita dengan di iringi dengan keimanan dan ketaqwaan kita insya Allah kita akan terhindar dari perbuatan-perbuatan maksiat yang sudah merajalela di sekitar kita bak cendawan di musim hujan ini. (lebih…)

Sebagian orang Jawa  berusaha menselaraskan beberapa konsep  pandangan leluhur,   dengan adab islami,  mengenai alam kodrati ( dunia ini ) dan alam adikodrati ( alam gaib atau supranatural )

Orang Jawa percaya bahwa Tuhan adalah pusat alam semesta dan pusat segala kehidupan karena sebelum semuanya terjadi di dunia ini Tuhanlah yang pertama kali ada. Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta beserta isinya tetapi juga bertindak sebagai pengatur, karena segala sesuatunya bergerak menurut rencana dan atas ijin serta kehendakNYA. Pusat yang dimaksud dalam pengertian ini adalah sumber yang dapat memberikan penghidupan, keseimbangan dan kestabilan, yang dapat juga memberi kehidupan dan penghubung individu dengan dunia atas. Pandangan orang Jawa yang demikian biasa disebut Manunggaling Kawula Lan Gusti, yaitu pandangan yang beranggapan bahwa kewajiban moral manusia adalah mencapai harmoni dengan kekuatan terakhir dan pada kesatuan terakhir, yaitu manusia menyerahkan dirinya selaku kawula terhadap Gusti Allah. (lebih…)